Artikel detail

Medali Untuk Ayuni

Posted by : editor | 2014-05-10 23:46:11

Medali Untuk Ayuni

Sebuah Cerpen Karya : Achmad Fahri Harahap, S.Pd

 

Sudah hampir sebulan makhluk kecil itu hadir dalam kehidupanku. Ayuni namanya, gadis kecil yang cantik dan periang. Senyum manis plus lesung pipi bocah itulah yang kudapati setiap hari. Wajah cerianya mengingatkan aku dengan adik-adikku dikampung ketika masih kecil dulu. Ah, rinduku dengan mereka rasanya terobati sejak kehadiran Ayuni.

Pertemuanku dengan Ayuni memberi warna yang lain dihidupku. Semua berawal sore itu saat kudapati ia menangis terisak di sudut jalan, tepat di sebuah perempatan lampu merah. Tubuh mungilnya didekap. Pakaiannya kumal, rambut panjangnya acak-acakan. Ya, Ayuni adalah salah satu dari berjuta anak yang terlantar dijalanan.

“Adik kenapa menangis?” Aku membelai rambutnya.

Dia kaget dan memandangku seketika. Bulir-bulir airmata masih menetes dari sudut matanya yang hitam membulat. Subhanallah, cantik sekali bocah ini.

“U..u..ang saya di..amb..bil orang”, ujarnya tersedu.

Kupandangi ia lekat-lekat. Dekil. Wajahnya yang berdebu kini lembab oleh airmata. Hatiku terenyuh. Bocah seumuran ia seharusnya duduk manis dibangku sekolah atau bermain dengan teman-teman sebayanya. Bukan bergelut dengan dunia jalanan yang keras, demi sesuap nasi.

“Ya sudah, nanti kakak akan ganti uangnya. Jangan menangis lagi ya!”

Kuhapus bulir-bulir airmata yang melompat dari sudut matanya. Tangisnya mulai reda. Pandangan kami bertemu sepersekian detik. Dia tersenyum.

“Nama adik siapa?”

“Ayuni”

“Ehm, namanya cantik, seperti orangnya. Nama kakak, Fahri. Ayuni boleh panggil kak Fahri” Aku mengulurkan tangan.

Disambutnya uluran tanganku sembari tersenyum. Lesung pipi menyembul dikedua belah pipinya yang kemerah-merahan. Kuajak dia ikut bersamaku. Awalnya dia terlihat ragu, namun akhirnya dia mau kuajak pulang. Sore yang menoreh kenangan. Senja berlalu begitu cepat.

***

Aku tinggal berdua bersama Seno, sahabat yang kukenal saat Pembekalan Awal Mahasiswa Baru, dua tahun yang lalu. Ayuni kutitipkan dirumah mbak Rina, tetangga kami. Mbak Rina dan suaminya yang belum dikaruniai anak, menyambut Ayuni dengan bahagia. Mereka menyayanginya seperti anak kandung mereka sendiri. Aku selalu bertemu dengan Ayuni setiap hari. Dia selalu menunggu aku pulang dari kampus di depan rumah mbak Rina, lalu dia bercerita padaku tentang banyak hal yang ditemuinya hari itu. Hari-hariku terasa semakin hidup sejak kehadirannya. Ayuni sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Kuluangkan waktuku agar bisa mendengar celotehannya serta mengajarkannya mengaji. Ah, ada saja hal lucu dan menarik yang membuat aku dan Seno tersenyum. Penat selepas kuliah hilang seketika melihat senyum dan cerita-cerita yang mengalir dari bibir mungilnya. Kadang dia bercerita tentang kancil dan harimau, tentang ikan-ikan kecil di kolam belakang , juga tentang bintang-bintang yang bersinar dilangit.

“Kak, katanya kalau ada bintang jatuh dan kita meminta sesuatu, permintaan kita akan terkabul ya?” Tanyanya pada suatu malam ketika kami berkumpul di beranda rumah mbak Rina. Langit cerah malam itu. Kami tersenyum geli mendengar pertanyaan Ayuni. Seno kemudian menjelaskan kepada Ayuni bahwa cerita itu hanya mitos belaka. Ayuni kelihatannya paham dengan apa yang dikatakan Seno, dia mengangguk mantap.

“ Ayuni tahu tidak ada berapa banyak bintang dilangit sana?”

Aku bertanya padanya. Dia terlihat asyik menghitung bintang dengan jari-jemari mungilnya.

“Tahu kak!”

“Berapa coba?”

“Sebanyak pasir di pantai kak!”

“Lhoo…kan nggak ada orang yang bisa menghitung pasir di pantai, sayang” mbak Rina menimpali,

“Nah, kalau nggak ada yang bisa menghitung pasir di pantai, mana ada yang bisa menghitung bintang dilangit!”. Kami semua melongo mendengar jawaban itu. Saling pandang, kemudian tersenyum mesem. Ayuni memang anak yang pintar.

***

Dua bulan ini aku sibuk sekali. Tugas kuliah membeludak, serta jam latihan Tarung Derajat semakin padat, mengingat PON kian dekat. Sejak itu pula aku jarang berinteraksi

dengan Ayuni, gadis kecilku. Untunglah dia tidak terlalu kesepian, ada Seno, mbak Rina dan mas Irwan didekatnya. Ingin sekali rasanya aku menemani hari-harinya seperti yang lalu. Menyeka airmatanya, mendengar cerita-ceritanya dan mengajarkan dia mengaji. Hanya malam yang dapat mempertemukan aku dengan Ayuni. Siangku terlalu angkuh.

“Kakak capek ya? Ayuni pijatin ya.”

Dia memijati pundakku. Aku memang sedang lelah, selepas sparring dengan kang Junaidi di tempat latihan sore tadi.

“Makasih ya dik”

“Kak Seno bilang, kakak akan bertanding bulan depan, tanding apaan sih kak?”

“Ehm, tarung derajat”

“Tarung derajat?”

“He..eh” Aku tersenyum.

Kujelaskan secara ringkas dengan sedikit peragaan agar Ayuni mengerti. Dia nampaknya paham dengan ceritaku dan mengatakan kalau sudah besar nanti, dia ingin menjadi petarung sepertiku. Aku tersenyum mendengarnya.

“Pokoknya kakak harus janji, kakak harus menang pada pertandingan itu!”, katanya sambil berkocak pinggang. Aku geli melihat tingkahnya.

“Kakak janji. Kakak akan menang, lalu medalinya buat Ayuni!”

“Benar kak? Janji?” Tanyanya berbinar.

Diacungkannya jari kelingkingnya. Kusambut kelingkingnya dengan kelingkingku. Kami tertawa bersama.

***

Pelatda telah berakhir. Besok kontingen Sumatera Utara akan berangkat ke Balikpapan, Kalimantan Timur untuk bertanding pada PON ke XVII. SMS Seno tadi pagi memaksaku untuk pulang. Ayuni sakit. Setelah meminta izin pada Kang Abduh, sebagai penanggung jawab team tarung derajat, aku langsung meluncur ke rumah sakit. Kudapati sosok periang itu terbaring lemah. Tubuhnya kurus. Dia tersenyum melihat kedatanganku. Senyum itu masih sama, hanya saja saat ini pasti dia sedang kesakitan. Tak sanggup kubendung airmataku, kupeluk dia. Ada mas Irwan dan mbak Rina disana. Mereka juga tak kuasa menahan airmata melihat keadaan gadis kecil itu. Seno sendiri sedang berbicara dengan dokter diruangannya.

Melihat kondisinya yang lemah, aku berniat membatalkan kepergianku ke Kalimantan, tapi tubuh mungil itu memintaku untuk tetap bertanding.

“Kakak sudah janjikan sama Yuni untuk menang.” Aku mengangguk. Airmataku terus menetes.

“Yuni nggak apa-apa kok kak. Medalinya nanti untuk Ayuni ya!”

Ya Allah, aku tak kuasa lagi membendung airmata yang terus menetes melihat kondisinya. Apalagi setelah mendengar penuturan Seno tentang vonis yang dijatuhkan dokter atas penyakit Ayuni. Leukimia. Aku lemas seketika.

***

Gerimis masih ramai diluar sana. Aku menatap keluar bandara. Kaca-kaca dipenuhi embun. Mataku mengerjap memandangi sesuatu ditanganku. Perlahan aku tersenyum. Hari ini kami kembali ke Medan. Setelah lebih dari sepuluh hari PON berlangsung akhirnya even itu berakhir . Aku berhasil meraih medali emas di kelas bebas putra 52,1-55 kg, meskipun dengan sedikit memar disekujur tubuh. Maklumlah, olahraga ini terbilang cukup keras dibanding dengan olahraga beladiri lainnya. Sebelum pulang tidak lupa aku membelikan oleh-oleh untuk Ayuni tiga stel pakaian dengan jilbab mungil. Aku ingin sekali melihatnya memakai jilbab, pasti cantik sekali. Ah, aku sudah tak sabar ingin berjumpa dengan adikku itu. Selama PON berlangsung, tidak ada kabar dari Seno. Aku berharap dia lekas sembuh. Burung besi yang kutumpangi masih terbang dengan gagah, mengepakkan sayapnya melintasi awan yang saling berkejaran. Pesawat yang membawa kami mulai merendah, perlahan mendarat menapaki bumi yang sedang diguyur hujan. Udara membisu. Hawa dingin menyergap. Kakak pulang, Ayuni.

***

Mendung menghiasi langit. Gerimis masih tetap saja turun. Ada sisa-sisa kesedihan yang ingin diungkapkan oleh alam. Tanah merah itu masih basah saat aku datang. Airmataku meleleh tanpa henti memandangi gundukan tanah yang penuh taburan bunga. Sebuah nama tertulis disana. Sebuah nama yang selama empat bulan ini menjadi bagian dari hidupku. Sebuah nama yang senyumnya selalu memberiku semangat. Sebuah nama yang mengajarkanku banyak pengalaman hidup dan persahabatan, juga sebuah nama yang ingin aku penuhi janjiku padanya.

Ayuni. Gadis kecil berlesung pipi itu telah pergi untuk selamanya, tiga hari sebelum kepulanganku. Seno sengaja tidak memberitahuku karena itu pesan terakhir Ayuni. Dia tidak ingin aku terganggu saat bertanding. Kutabur bunga diatas makamnya. "Istirahatlah dengan tenang adikku sayang. Kau sudah lelah bertarung melawan penyakitmu." Batinku berbisik.

Kugantungkan medali emas itu di nisan Ayuni

Langkahku gontai meninggalkan area pemakaman. Seno sudah menunggu diluar. Airmataku masih terus mengalir, bermuara dilubuk kesedihan. Terlalu banyak kenangan yang tertinggal disana. Senyum, canda-tawa, persahabatan dan cinta. Sudah kupenuhi janji itu Ayuni. Selamat jalan sayang, surga Allah menantimu.

 

 

dibuat di Tanjungbalai, 31 Januari 2010

diselesaikan di Medan, 3 Februari 2010...

salam cinta buat dua adinda tercinta,

Laily Munawwaroh dan Rio Maulana,

salam sayang penuh hangat buat sahabat-sahabatku dan Relawan Anti Narkoba di seluruh Indonesia.

Achmad Fahri Harahap, S.Pd

 

Copyright © 2017 Design & Support by Medanstore Creative Solution